hymne guru(instrumen)

RESENSI “BENGKEL kreativitas” NON FIKSI

KATA PENGANTAR

Pertama-tam mrilah kit pnjatkan kehadirat ALLAH SWT,yang mana Dia telah memmberikan kita nikmat kesehatan sehingga kita mampu menyelesaikan RESENSI buku non fiksi ini.Tida lupa pula shalawat beriring salam kita hadiahkan untuk nabi kita Muhammad SAW karena Beliau telah membawa kit dar zaman kebodohan kezaman yng penuh dengan ilmu pengetahuan seperti saat hari ini.

Tugas resensi ini dibuat untuk memenuhi tugas bahasa indonesia, sebagai manusia biasa mungkin dalam penulisan resensi kami memiliki banyak kesalahan, namun penulis berharap  tugas ini dapat memberikan pengetahuan bgi pembaca dan berguna dalam pengembangan pelajaran bahasa indonesia.

Sungai Penuh,26 november 2010

PENULIS

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Resensi ini dibuat untuk memenuhi tugas bahasa indonesia,agar siswa-siswa memahami dan mengerti cara membuat RESENSI dan apa itu resensi.

Resensi merupakan penilaian atau pembahasan suatu buku,maka adanya cara pembuatan resensi ini,maka siswa dapat menilai suatu buku apakah buku itu layak untuk dibaca oleh umum atau tidak.

1.2 TUJUAN

Resensi ini dibuat untuk membantu pembelajaran, serta melengkapi pematerian tentang resensi. Dengan tersusunnya resensi ini, supaya kita semua akan lebih banyak tahu hal-hal yang berkaitan dengan resensi.

Penulis mengambil buku yang berjudul HATTA bertujuan untuk memberi penilaian terhadap buku tersebut tentang kelayakan untuk di publikasikan.

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ……………………………………………….

DAFTAR ISI …………………………………………………………

PENDAHULUAN ……………………………………………………

-LATAR BELAKANG ……………………………………….

-TUJUAN …………………………………………………….

RESENSI BUKU NON FIKSI

Bung Hatta …………….

PENUTUP ……………………………………………………………

-TUJUAN

-KRITIK DAN SARAN

-DAFTAR PUSTAKA

BAB 2

PEMBAHASAN

RESENSI BUKU NON FIKSI

BENGKEL KREATIVITAS

Judul : Bengkel Kreativitas
Penulis : Jordan E. Ayan
Penerbit : KAIFA
Cetakan : II, November 2002
Tebal : 312 halaman

Sebuah permainan menyenangkan menelusuri ladang kreatifitas yang kaya. Buku Bengkel Kreatifitas Ayan ini ditakdirkan untuk membuat pola pikir penikmatnya menjadi lebih menarik dan orisinal. Bengkel Kreatifitas adalah sebuah survey ide untuk melejitkan kreatifitas yang mengasikkan dan menyenangkan. Antisiasme Jordan Ayan sulit dibantah dan setiap penikmat buku ini akan mendapatkan strategi yang sesuai. Bengkel Kreatifitas adalah buku panduan untuk membebaskan semangat kreatif yang penuh inspirasi sekaligus praktis. Masa dapan adalah milik mereka yang mampu membentuknya. Buku unik Jordan Ayan ini akan menunjukan cara membentuk masa depan, yaitu dengan menyediakan kunci untuk membuka ide-ide cemelang. Didalam buku ini kita mendapatkan sepuluh cara untuk menemukan ide-ide pamungkas melalui pergaulan, lingkungan, perjalanan, permainan, alam bawah sadar, seni, teknologi, berfikir, bacaan, dan jiwa kreatif.
Setelah membaca buku ini penulis berharap, bila anda merasa anda bukan tipe orang yang kreatif, maka anda pasti akan merubah pikiran setelah membaca buku Bengkel Kreatifitas ini. Jordan Ayan akan mengajak anda untuk menjadikan seluruh dunia anda menjadi bengkel guna menempa kembali kraetifitas anda. Perkakas yang akan anda temukan dalam bengkel ini bukanlah palu atau obeng, melainkan sepuluh strategi yang dapat anda gunakan untuk membongkar, memasang, merakit, dan mengembangkan daya kretif anda. Baik anada ingin lebih kreatif dalam mengembangkan ide-ide baru ditempat kerja anda, maupun mencari inspirasi untuk kegiatan pribadi, seperti menulis atau melukis, buku ini akan membantu anda meluaskan wawasan dan menyulut semangat kreatif anda.

BAB 3

PENUTUP

3.1 KESIMPULAN

Sebuah permainan menyenangkan menelusuri ladang kreatifitas yang kaya. Buku Bengkel Kreatifitas Ayan ini ditakdirkan untuk membuat pola pikir penikmatnya menjadi lebih menarik dan orisinal

3.2 SARAN

Dengan begitu banyak kelebihan didalam buku ini, maka buku ini sungguh layak untuk di publikasikan. Serta untuk penulis atau pengarang buku ini, supaya lebih sukses dan maju maka untuk membuat buku selanjutnya agar dapat memperhatikan kata-kata yang digunakan juga agar dapat mengeluarkan buku seperti ini juga untuk para pelajar SMA.

Kami berharap kepada pengarang agar dapat mendengar saran dari kami agar mengeluarkan buku-buku selanjutnya juga lebih bagus dari buku-buku sebelumnya.

RESENSI

BUKU NON FIKSI

BENGKEL KREATIVITAS

D

I

S

U

S

U

N

O L E H

ROKI Mirza

XII ia U

Guru pembimbing :

Dra Yuliarti

Dinas pendidikan,olah raga dan kebudayaan Sungai Penuh

Sekolah Menengah Atas Negeri 3 Sungai Penuh.

DAFTAR PUSTAKA

Ayan,J ordan E.2002.Bengkel Kreativitas,Jakarta:Kaifa

REsensi ” BUNG HATTA” NON FOKSI

KATA PENGANTAR

Pertama-tam mrilah kit pnjatkan kehadirat ALLAH SWT,yang mana Dia telah memmberikan kita nikmat kesehatan sehingga kita mampu menyelesaikan RESENSI buku non fiksi ini.Tida lupa pula shalawat beriring salam kita hadiahkan untuk nabi kita Muhammad SAW karena Beliau telah membawa kit dar zaman kebodohan kezaman yng penuh dengan ilmu pengetahuan seperti saat hari ini.

Tugas resensi ini dibuat untuk memenuhi tugas bahasa indonesia, sebagai manusia biasa mungkin dalam penulisan resensi kami memiliki banyak kesalahan, namun penulis berharap  tugas ini dapat memberikan pengetahuan bgi pembaca dan berguna dalam pengembangan pelajaran bahasa indonesia.

Sungai Penuh,22 november 2010

PENULIS

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Resensi ini dibuat untuk memenuhi tugas bahasa indonesia,agar siswa-siswa memahami dan mengerti cara membuat RESENSI dan apa itu resensi.

Resensi merupakan penilaian atau pembahasan suatu buku,maka adanya cara pembuatan resensi ini,maka siswa dapat menilai suatu buku apakah buku itu layak untuk dibaca oleh umum atau tidak.

1.2 TUJUAN

Resensi ini dibuat untuk membantu pembelajaran, serta melengkapi pematerian tentang resensi. Dengan tersusunnya resensi ini, supaya kita semua akan lebih banyak tahu hal-hal yang berkaitan dengan resensi.

Penulis mengambil buku yang berjudul HATTA bertujuan untuk memberi penilaian terhadap buku tersebut tentang kelayakan untuk di publikasikan.

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ……………………………………………….

DAFTAR ISI …………………………………………………………

PENDAHULUAN ……………………………………………………

-LATAR BELAKANG ……………………………………….

-TUJUAN …………………………………………………….

RESENSI BUKU NON FIKSI

Bung Hatta …………….

PENUTUP ……………………………………………………………

-TUJUAN

-KRITIK DAN SARAN

-DAFTAR PUSTAKA

BAB 2

PEMBAHASAN

RESENSI BUKU NON FIKSI

HATTA

Judul : Hatta
Seri TEMPO : Seri Bapak Bangsa
ISBN / EAN 9789799102676 / 9789799102676
Tim Penulis : Buku Tempo
Penerbit : Gramedia Populer kepustakaan (KPG)
Publikasikan : 7 September 2010
Halaman :192
Berat : 200 gram
Dimensi (mm) :160 x 230
Tag : Biografi dan Otobiografi

Sekiranya masih hidup dan diminta memerikan situasi Republik Indonesia di awal abad ke-21, Mohammad Hatta hanya perlu mencetak-ulang tulisannya yang pernah terbit pada 1962: “Pembangunan tak berjalan sebagaimana semestinya…. Perkembangan demokrasi pun telantar karena percekcokan politik senantiasa. Pelaksanaan otonomi daerah terlalu lamban sehingga memicu pergolakan daerah.”

Buku ini memaparkan sepak-terjang Mohammad Hatta, salah seorang Bapak Bangsa Indonesia dari pemikiran sampai ke asmara. Isi buku ini pernah dilaporkan dalam edisi khusus Majalah Berita Mingguan TEMPO sepanjang 2001-2009. Jauh di masa hidupnya, Hatta telah menerawang pahit-getir perjalanan Republik Indonesia sehingga sering disebut “melampui zaman”.

Menurut Mohammad Hatta, demokrasi dapat berkalan baik jika ada rasa tanggung jawab dan toleransi di kalangan pemimpin politik. Sebaliknya, menurut dia, “Perkembangan politik yang berakhir dengan kekacauan, demokrasi yang berakhir dengan anarki, membuka jalan untuk lawannya: diktaktor

Bung Hatta,mungkin banyak di antara kita yang mengenal sosok beliau.sungguh menarik ketika kita membaca buku biografi bung hatta.anda akan merasakan kehidupan beliau ketika menjadi wapres dan kuliah di negeri belanda.sosok yang di jadikan ikon  perjuangan anti korupsi di indonesia ini menjadikan kita rindu akan sosok beliau,pemimpin yang jujur dan mementingkan kepentingan rakyatnya.

Buku ini memaparkan sepak-terjang Mohammad Hatta, salah seorang Bapak Bangsa Indonesia dari pemikiran sampai ke asmara. buku ini dapat menjadi tambahan pembelajaran tentang seorang pahalwan yang sangat kurang di bangku sekolah.karena pada setiap diri pahlawan memiliki nilai – nilai yang dapat dijadikan pembelajaran bagi banyak orang

Tim buku tempo telah banyak mengeluarkan buku-buku bacaan tentang para pejuang bangsa,sehingga masyarakat indonesia lebih memahami tentang perjuangan para pahlawan.

BAB 3

PENUTUP

3.1 KESIMPULAN

Buku ini banyak memberi pemahaman kepada kita tentang bung hatta.

3.2 SARAN

Dengan begitu banyak kelebihan didalam buku ini, maka buku ini sungguh layak untuk di publikasikan. Serta untuk penulis atau pengarang buku ini, supaya lebih sukses dan maju maka untuk membuat buku selanjutnya agar dapat memperhatikan kata-kata yang digunakan juga agar dapat mengeluarkan buku seperti ini juga untuk para pelajar SMA.

Kami berharap kepada pengarang agar dapat mendengar saran dari kami agar mengeluarkan buku-buku selanjutnya juga lebih bagus dari buku-buku sebelumnya.

RESENSI

BUKU NON FIKSI

“Bung Hatta”

D

I

S

U

S

U

N

O L E H

ROKI MIRZA

XII ia U

Guru pembimbing :

Dra Yuliarti

Dinas pendidikan,olah raga dan kebudayaan Sungai Penuh

Sekolah Menengah Atas Negeri 3 Sungai Penuh.

DAFTAR PUSTAKA

Tim buku Tempo.2010.Hatta.Jakarta:tempo

REsensi BUkU “metode penelitian” NON FIKSI

KATA PENGANTAR Pertama-tam mrilah kit pnjatkan kehadirat ALLAH SWT,yang mana Dia telah memmberikan kita nikmat kesehatan sehingga kita mampu menyelesaikan RESENSI buku non fiksi ini.Tida lupa pula shalawat beriring salam kita hadiahkan untuk nabi kita Muhammad SAW karena Beliau telah membawa kit dar zaman kebodohan kezaman yng penuh dengan ilmu pengetahuan seperti saat hari ini. Tugas resensi ini dibuat untuk memenuhi tugas bahasa indonesia, sebagai manusia biasa mungkin dalam penulisan resensi kami memiliki banyak kesalahan, namun penulis berharap tugas ini dapat memberikan pengetahuan bgi pembaca dan berguna dalam pengembangan pelajaran bahasa indonesia. Sungai Penuh,22 november 2010 PENULIS BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Resensi ini dibuat untuk memenuhi tugas bahasa indonesia,agar siswa-siswa memahami dan mengerti cara membuat RESENSI dan apa itu resensi. Resensi merupakan penilaian atau pembahasan suatu buku,maka adanya cara pembuatan resensi ini,maka siswa dapat menilai suatu buku apakah buku itu layak untuk dibaca oleh umum atau tidak. 1.2 TUJUAN Resensi ini dibuat untuk membantu pembelajaran, serta melengkapi pematerian tentang resensi. Dengan tersusunnya resensi ini, supaya kita semua akan lebih banyak tahu hal-hal yang berkaitan dengan resensi. Penulis mengambil buku yang berjudul METODE PENELITIAN bertujuan untuk memberi penilaian terhadap buku tersebut tentang kelayakan untuk di publikasikan. DAFTAR ISI KATA PENGANTAR………………………………………………. DAFTAR ISI………………………………………………………… PENDAHULUAN…………………………………………………… -LATAR BELAKANG………………………………………. -TUJUAN……………………………………………………. RESENSI BUKU NON FIKSI Pengetahuan,ilmu dan penelitian……………. PENUTUP…………………………………………………………… -TUJUAN -KRITIK DAN SARAN -DAFTAR PUSTAKA BAB 2 PEMBAHASAN RESENSI BUKU NON FIKSI METODE PENELITIAN Pengarang : Beni Ahmad Saebani,M.si Penerbit : Pustaka Setia Tahun Terbit : 2008 Tebal Buku : 220 halaman Harga Buku : Rp 80.000,- Warna buku : Biru Beni Ahmad Saebani,lajir disubang pda tanggal 21 april 1968.pendidikan dasarnya diselesaikan pada tahun 1980 di SDN V Pemanukan-Subang. Kemudian thalabul ‘ilmi dipondik pesantren Persatuan Islam Benda-Tasik Malaya pada thun 1980-1983.Beliau merupakan alumni Universitas Padjajaran Bandung dalam Bidang Kajin Utama Sosilogi-Antropologi.selesai dengan gelar Magister Sains pd tahun 2004. Dalam aktivitas inelektualnya,penulis mulai tahun 1991 sampai dengan sekarang menjabat sebagai Dosen tetap Fakultas Syari’ah dan Hukum Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Jati Bandung.Penulis aktif dalam Lembaga Swadaya Masyarakat Civic Education Center (CEC) sebagi direktur Bidang Sosial Politik. Penulis juga telah banyak menerbitkan buku dintaranya : Sosial Hukum (2007) oleh Pustaka Setia,Filsafat hukum Islam; Filsfat Ilmu dll. Buku yang ditulis beni ahmad saebani membahs pemecahan masalah secara ilmiah,yang berkaitan dengan masalah kehidupan manusia dalam konteks sosial akademik.Buku ini pembahasannya diurai secara detail perbedaan penelitian yang menggunakan pendekatan kuantitatif dengan pendekatan kualitatif. Terutama bagi mahasiswa perguruan tinggi islam,dengan kurikulum silabu mata kuliah metode penelitian yang telah ditetapkan akan lebih mudah mencari jawaban metodelogis berkaitan dengan pembuatan rencana penelitian,baik skripsi,tesis maupun desertasi . Selain itu,dalam buku ini dibahas segala hal yang berkaitan dengan teknik pengumpilan dat dan pengolahan data,sehingga calon peneliti atau mahasiswa tidak begitu saja menentukan jenis dat,sumber data,dan teknik pengumpulan data yang mayoritas.Namun dalam buku ini sebgai pelajar SMA kata yang digunakan sulit untuk dimengerti karena bahasa yang digunakan terlalu tinggi.juga dalam buku ini harus ada guru pembimmbing untuk membahas isi buku. Adapun apabila dibanding dengan buku sejenis dengan jusdul yang sama buku ini memiliki isi yang menarik untuk dibaca,dan cangkupan tentang penelitian cukup luas sehingga para peneliti mampu meneliti dengan baik dan benar.dalam buku ini juga terdapat rumus-rumus dalam membuat hasil penelitian agar penelitian terselesaikan dengan mudah. Sebaiknya buku ini tidak hanya ditulis untuk mahasiswa perguruan tinggi,tetapi juga untuk pelajar setara SMA agar para pelajar juga mampu membuat suatu penelitian dan ketika mereka melanjutkan keperguruan tinggi mereka tidak merasa kaku dengan penelitian. BAB 3 PENUTUP 3.1 KESIMPULAN Buku ini mampu membantu mahasiswa dalam melakukan penelitian. Selain itu juga dapat membantu kita mengetahui cara-cara penelitian yang benar. Sehingga para pembaca lebih memahami bagaimana melakukan penelitian. 3.2 SARAN Dengan begitu banyak kelebihan didalam buku ini, maka buku ini sungguh layak untuk di publikasikan. Serta untuk penulis atau pengarang buku ini, supaya lebih sukses dan maju maka untuk membuat buku selanjutnya agar dapat memperhatikan kata-kata yang digunakan juga agar dapat mengeluarkan buku seperti ini juga untuk para pelajar SMA. Kami berharap kepada pengarang agar dapat mendengar saran dari kami agar mengeluarkan buku-buku selanjutnya juga lebih bagus dari buku-buku sebelumnya. RESENSI BUKU NON FIKSI “METODE PENELITIAN” D I S U S U N O L E H Roki mirza XII ia U Guru pembimbing : Dra Yuliarti Dinas pendidikan,olah raga dan kebudayaan Sungai Penuh Sekolah Menengah Atas Negeri 3 Sungai Penuh. DAFTAR PUSTAKA Saebani,Beni Ahmad.2008.Metode Penelitian.Jakarta:PT Pustaka Setia.

sejarah palang merah indonesia

SEJARAH PALANG MERAH INDONESIA Oleh: LINTANG WISESA ATISSALAM Ex : PMR Wira SMA Al-Islam 1 Surakarta Angkatan ‘08-’09 PMR PMI Cabang Kota Surakarta Angkatan IX Surakarta, 2010 Pada masa pendudukan Belanda di Indonesia, kegiatan Kepalangmerahan Indonesia masih dipegang oleh NERKAI ( Nederlands Rode Kruis Afdeling Indie ), yakni Palang Merah Hindia-Belanda yang berdiri sejak 21 Oktober 1973. Sejak 1932, dr. RCL Senduk dan dr. Bahder Djohan mengusulkan kepada Pemerintah Belanda agar Indonesia memiliki badan Palang Merah sendiri. Namun usulan tersebut ditolak dengan alasan rakyat Indonesia belum mampu mengatur badan Palang Merahnya sendiri. Pada 1940 usulan ini diajukan kembali, namun sekali lagi mendapat penolakan dari pemerintah Belanda. Pada masa-masa pendudukan Jepang, 1942-1945, dirintis kembali perjuangan membentuk badan Palang Merah sendiri, namun tetap belum terwujud dikarenakan pemerintah Jepang khususnya, dan masyarakat dunia tengah menghadapi dahsyatnya akhir Perang Dunia II. Barulah setelah merdeka usulan ini terwujud. Pada 3 September 1945 Presiden Soekarno memerintahkan Menteri Kesehatan, dr. Boentaran, untuk merealisasikan pembentukan Palang Merah Nasional. Dengan segera dr. Boentaran membentuk panitia persiapan pembentukan Palang Merah Nasional. Panitia yang tenar dengan sebutan Panitia Lima itu terdiri atas:

1. Ketua : dr. R. Mochtar

2. Penulis : dr. Bahder Djohan

3. Anggota : dr. Djoehana

4. Anggota : dr. Marzuki

5. Anggota : dr. Sitanala

Dan akhirnya pada 17 September 1945 terbentuklah Palang Merah Indonesia bersamaan dengan dilantiknya pengurus PMI pertama oleh Wakil Presiden RI Moh. Hatta. Pengurus PMI pertama adalah sebagai berikut: Ketua : Drs. Moh. Hatta Wakil Ketua: dr. Boentaran Penulis : dr. Mochtar Bendahara : Mr. T. Saubari Penasihat : KH Raden Adrian Organisasi PMI diakui Indonesia sebagai satu-satunya badan Palang Merah Nasional dan disahkan melalui Keputusan Presiden No. 25 tahun 1950 tanggal 16 Januari 1950. Palang Merah Indonesia diakui oleh badan pusat ICRC ( International Committee of the Red Cross ) dengan surat No. 392 pada 15 Juni 1950. Palang Merah Indonesia pun akhirnya diakui oleh dunia dan diterima sebagai anggota Liga Palang Merah Internasional pada 16 Oktober 1950. Mars PMI mulai berkumandang sejak diciptakan oleh H.S. Muhtar pada 1967 di PMI Cabang Kudus, Jawa Tengah.

sejarah sastra indonesia

MEMBINCANG SEJARAH SASTRA INDONESIA[1]

Oleh : Lukni Maulana[2]

 

Peradaban manusia tidak dapat lepas dari budaya dan seni. Hal ini dibuktikan atas peninggalan catatan manusia dalam bentuk tulisan. Pada awalnya, tulisan ini hanya dipergunakan dalam ritual keagamaan dan dokumentasi hal-hal penting.
Namun dalam perkembangan lebih lanjut, tulisan juga dijadikan sebuah seni yang memiliki teknik serta gayanya sendiri. Seperti kitab kesusastraan dan seni menulis indah yang disebut kaligrafi.

Di Indonesia budaya tulis-menulis baru dimulai sejak abad Ke IV masehi, ditemukan bukti pertama catatan yang dituliskan pada prasasti Yupa.[3] Kemampuan manusia membuat catatan tertulis terus berkembang hingga masuknya agama Islam dengan aksara arab, serta aksara latin yang dibawa bangsa Eropa di nusantara. Perkembangan sastra Indonesia sendiri, baru dimulai sejak periode angkatan Balai Pustaka di tahun 1920. Momen ini dijadikan pula sebagai tonggak awal penulisan sastra modern Indonesia.

 

Priode-Priode Sastra Indonesia

Sejarah sastra di Indonesia dibagi menjadi beberapa periode sesuai dengan perubahan momentum sosial dan politik di Indonesia Meskipun banyak ahli yang mengatakan pembagian periodisasi sastra di Indonesia dimulai sejak masa Balai Pustaka di tahun 1920. Menuru pendapat Simomangkir Simanjuntak yang berpendapat sejarah sastra dimulai sejak Indonesia memasuki masa sejarah atau masa ketika tulisan baru dikenal.

  1. 1. Masa Prakolonial
  1. Masa Hindu-Budha (abad IV sampai XIV masehi)

Periodisasi dimulai sejak ditemukannya catatan tertulis pada abad IV dalam prasasti Yupa. Ketika masa itu, tulisan mengadopsi bahasa Sansekerta dan huruf Palawa dari India. Bahasa dan tulisan tersebut, dibawa oleh kaum brahmana yang dimaksudkan untuk kegiatan ritual keagamaan. Namun tidak hanya sebatas itu, para pujangga nusantara mulai mengembangkan kemampuan mereka dalam kesusastraan. Tercatat di masa Kerajaan Kediri Jawa Timur, tergubahlah kitab epik Baratayudha versi bahasa Jawa yang dikarang oleh Mpu Sedah dan Mpu Panuluh, Arjuna Wiwaha karya Mpu Kanwa, dan diteruskan lagi di masa Kerajaan Majapahit dengan mahakarya kitab Negara Kertagama oleh Mpu Prapanca serta kitab Sutasoma oleh Mpu Tantular

  1. Masa Kesultanan Islam (Abad XIV sampai XVII)

Pada awalnya, kisah-kisah yang beredar terkait dengan cerita para nabi, Rasulullah Muhammad SAW, sunan, wali, atau orang suci lainnya. Namun kesusastraan yang bernafaskan Islam ini terus berkembang hingga ke kehidupan yang berlatarbelakangkan nusantara seperti suluk Wujil karangan Sunan Bonang. Menceritakan wejangan-wejangan Sunan Bonang kepada Wujil, seorang cebol yang terpelajar mantan abdi dalem keraton Majapahit

  1. 2. Masa kolonial Belanda.
  1. Pujangga Melayu Lama (Sebelum abad XX)

Karya sastra didominasi oleh Syair, gurindam, pantun, dan hikayat. Isi cerita berkisah sejarah dan moral. Ciri utama masa ini adalah anonim atau tak ada nama pengarang. Berkembang di daerah sumatra seperti Riau, Sumatra Barat, dan Sumatra Utara. Contoh yang terkenal adalah Hikayat Bayan Budiman dan syair Ken Tambunan

  1. Pujangga Balai Pustaka (1920–1950)

Masa ini ditandai dengan berdirinya penerbit Balai Pustaka yang dimaksudkan oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda untuk mengatur  karya beredar. Karya-karya yang dihasilkan kebanyakan berupa roman dan novel. Tersebutlah beberapa karya besar seperti Azab dan Sengsara karya Merari Siregar, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck karya Hamka, dan Siti Nurbaya karya Marah Roesli.

  1. Pujangga Baru (1930 – 1942)

Pujangga baru merupakan bentuk reaksi dari penerbit Balai Pustaka yang dinilai terlalu ketat dalam melakukan penyensoran, terutama pada karya-karya yang mengandung unsur nasionalisme. Cerita didominasi oleh ide-ide pembangunan masyarakat menuju jiwa nasionalisme untuk merdeka. Karya-karya besar di masa ini antara lain Layar terkembang dari Sutan Takdir Alisjahbana dan Belenggu karya Armijn Pane.

  1. 3. Masa pascakolonial.
  1. Angkatan 45

Esensi sastra masa ini diilhami oleh keadaan sosial politik revolusi mempertahankan kemerdekaan. Bentuk-bentuk karya yang banyak dihasilkan berupa puisi dan syair pembangkit semangat nasionalisme. Di antara dari para pujangga masa ini adalah Chairil Anwar dengan karyanya Kerikil Tajam.

  1. Angkatan 50-an

Ditandai dengan terbitnya majalah sastra Kisah asuhan H.B. Yasin, bentuk karya masa ini didominasi oleh cerpen dan kumpulan puisi. Cerita beraliran realis sosialis yang diilhami oleh isu komunisme. NH. Dini dengan Dua Dunia dan AA Nafis dengan kumpulan cerpen Rubuhnya Surau Kami adalah dua di antaranya

  1. Angkatan 66-70

Masa ini ditandai dengan terbitnya majalah sastra Horizon . Banyak aliran yang berkembang seperti surrealis dan absurd. Pujangga yang terkenal di antaranya Sapardi Djoko Damono dengan kumpulan sajak Perahu Kertas

  1. Dasawarsa 80-an

Di masa ini, karya yang beredar berkisah sekitar romantisme dan cinta. Mulai muncul novel-novel populer dengan cerita ringan yang mudah dipahami. Sebut saja novel Karmila karya Marga T dan Yudhistira Ardinugraha dengan novel Arjuna Mencari Cinta.

  1. Masa Reformasi 1998

Reformasi struktur ketatanegaraan dalam aspek politik, sosial, dan ekonomi, telah memberikan angin segar bagi perkembangan sastra Indonesia. Muncul banyak penulis baru dengan novel, cerpen, puisi, dan esei yang beragam tema. Kebebasan mengemukakan pendapat memberikan daya kreativitas dalam isi cerita. Contoh yang jelas terdapat dalam novel Saman (membahas masalah seks )karya Ayu Utami. Ciri penulisan yang bebas dan terbuka, menjadi salah satu keunikan karya-karya di masa ini.

Sastrawan Angkatan Reformasi (2000), seiring terjadinya pergeseran kekuasaan politik dari tangan Soeharto ke BJ Habibie lalu KH Abdurahman Wahid (Gus Dur) dan Megawati Sukarnoputri, muncul wacana tentang Sastrawan Angkatan Reformasi. Munculnya angkatan ini ditandai dengan maraknya karya-karya sastra, puisi, cerpen, maupun novel, yang bertema sosial-politik, khususnya seputar Reformasi.

Di rubrik sastra Harian Republika, misalnya, selama berbulan-bulan dibuka rubrik sajak-sajak peduli bangsa atau sajak-sajak reformasi. Berbagai pentas pembacaan sajak dan penerbitan buku antologi puisi juga didominasi sajak-sajak bertema sosial-politik.Sastrawan Angkatan Reformasi merefleksikan keadaan sosial dan politik yang terjadi pada akhir tahun 1990-an, seiring dengan jatuhnya Orde Baru. Proses reformasi politik yang dimulai pada tahun 1998 banyak melatar belakangi kelahiran karya-karya sastra puisi, cerpen, dan novel pada saat itu.

Bahkan, penyair-penyair yang semula jauh dari tema-tema sosial politik, seperti Sutardji Calzoum Bachri, Ahmadun Yosi Herfanda dan Acep Zamzam Noer, juga ikut meramaikan suasana dengan sajak-sajak sosial-politik mereka.

 

KARYA-KARYA SASTRA INDONESIA DARI MASA KE MASA

  1. 1. Karya Sastra Pujangga Lama
    1. 1. Sejarah
  1. 2. Hikayat
  2. 3. Syair
  1. 4. Kitab agama
  • Syarab al-‘Asyiqin (Minuman Para Pecinta) oleh Hamzah Fansuri
  • Asrar al-‘Arifin (Rahasia-rahasia para Gnostik) oleh Hamzah Fansuri
  • Nur ad-Daqa’iq (Cahaya pada kehalusan-kehalusan) oleh Syamsuddin Pasai
  • Bustan as-Salatin (Taman raja-raja) oleh Nuruddin ar-Raniri
  1. 2. Karya Sastra Melayu Lama
  • Robinson Crusoe (terjemahan)
  • Lawan-lawan Merah
  • Mengelilingi Bumi dalam 80 hari (terjemahan)
  • Graaf de Monte Cristo (terjemahan)
  • Kapten Flamberger (terjemahan)
  • Rocambole (terjemahan)
  • Nyai Dasima oleh G. Francis (Indo)
  • Bunga Rampai oleh A.F van Dewall
  • Kisah Perjalanan Nakhoda Bontekoe
  • Kisah Pelayaran ke Pulau Kalimantan
  • Kisah Pelayaran ke Makassar dan lain-lainnya
  • Cerita Siti Aisyah oleh H.F.R Kommer (Indo)
  • Cerita Nyi Paina
  • Cerita Nyai Sarikem
  • Cerita Nyonya Kong Hong Nio
  • Nona Leonie
  • Warna Sari Melayu oleh Kat S.J
  • Cerita Si Conat oleh F.D.J. Pangemanan
  • Cerita Rossina
  • Nyai Isah oleh F. Wiggers
  • Drama Raden Bei Surioretno
  • Syair Java Bank Dirampok
  • Lo Fen Kui oleh Gouw Peng Liang
  • Cerita Oey See oleh Thio Tjin Boen
  • Tambahsia
  • Busono oleh R.M.Tirto Adhi Soerjo
  • Nyai Permana
  • Hikayat Siti Mariah oleh Hadji Moekti (indo)
  • dan masih ada sekitar 3000 judul karya sastra Melayu-Lama lainnya

 

  1. 3. Penulis dan Karya Sastra Angkatan Balai Pustaka
  1. 4. Penulis dan Karya Sastra Pujangga Baru
  1. 5. Penulis dan Karya Sastra Angkatan 1945
  1. 6. Penulis dan Karya Sastra Angkatan 1950 – 1960-an
  1. 7. Penulis dan Karya Sastra Angkatan 1966
  1. 8. Penulis dan Karya Sastra Angkatan 1980

 

  1. 9. Penulis dan Karya Sastra Angkatan Reformasi

 

10. Penulis dan Karya Sastra Angkatan 2000

Cybersastra

Seiring perkembangan teknologi dengan ditandai dengan masuknya internet menjadi ruang gerak bagi komunitas sastra di Indonesia. Era sekarang ini banyak bermunculan sastrawan melalui media cyber ini dalam artian publikasi karya sastra tidak melaui buku-buka tapi melalui media masa semisal website, blog dan jejaring sosial.

Banyak karya sastra Indonesia yang tidak dipublikasi berupa buku namun termaktub di dunia maya (Internet), baik yang dikelola resmi oleh pemerintah, organisasi non-profit, maupun situs pribadi.


[1] Disarikan dari berbagai sumber. Sebagai refrensi untuk membangkitlan intelektualitas seni dan budaya kader HMI Komisariat FPBS IKIP PGRI Semarang, Sabtu, 8 Mei 2010

[2] Aktivis HMI, Teater BETA IAIN Walisongo Semarang dan Komunitas Seni dan Budaa ilci institut Semarang

[3] Prasasti Kerajaan Kutai yang terletak di tepi Sungai Mahakam Pulau Kalimantan. Berisi tentang upacara persembahan yang dilakukan raja Mulawarman.

kerajaan-kerajaan islam di indonesia (SEJARAH)

KERAJAAN SAMUDERA PASAI

 

  1. Awal Perkembangan Kerajaan Samudera Pasai

Kerajaan Samudera Pasai terletak di pantai utara Aceh, pada muara Sungai Pasangan (Pasai). Pada muara sungai itu terletak dua kota, yaitu samudera (agak jauh dari laut) dan Pasai (kota pesisir). Kedua kota yang masyarakatnya sudah masuk Islam tersebut disatukan oleh Marah Sile yang masuk Islam berkat pertemuannya dengan Syekh Ismail, seorang utusan Syarif Mekah. Merah Selu kemudian dinobatkan menjadi sultan (raja) dengan gelar Sultan Malik al Saleh.

Setelah resmi menjadi kerajaan Islam, Samudera Pasai berkembang pesat menjadi pusat perdagangan dan pusat studi Islam yang ramai. Pedagang dari India, Benggala, Gujarat, Arab, Cina serta daerah di sekitarnya banyak berdatangan di Samudera Pasai.

Samudera Pasai setelah pertahanannya kuat segera meluaskan kekuasaan ke daerah pedalaman meliputi Tamiang, Balek Bimba, Samerlangga, Beruana, Simpag, Buloh Telang, Benua, Samudera, Perlak, Hambu Aer, Rama Candhi, Tukas, Pekan, dan Pasai.

 

  1. Aspek Kehidupan Politik

Ada beberapa raja yang pernah memerintah Samudera Pasai, antara lain:

1)     Sultan Malik al Saleh ( 1290 – 1297)

2)     Muhammad Malik az Zahir ( 1297 – 1326 )

3)     Mahmud Malik az Zahir ( 1326 – 1345)

4)     Mansur Malik az Zahir ( …. – 1346 )

5)     Ahmad Malik az Zahir ( 1346 – 1383 )

6)     Zain al Abidin Malik az Zahir ( 1383 – 1405 )

7)     Nahrasiyah ( 1405 – 1412 )

8)     Sallah ad Din ( 1412 – … )

9)     Abu Zaid Malik az Zahir ( … – 1455 )

10) Mahmud Malik az Zahir ( 1455 – 1477 )

11) Zain al Abidin ( 1477 – 1500 )

12) Abdullah Malik az Zahir ( 1501 – 1513 )

13) Zain al Abidin ( 1513 – 1524 )

Kehidupan politik yang terjadi di Kerajaan Samudera Pasai dapat dilihat pada masa pemerintahan raja-raja berikut ini:

  1. Sultan Malik al Saleh

Sultan Malik al Saleh merupakan raja pertama di Kerajaan Samudera Pasai. Dalam menjalankan pemerintahannya, Beliau berhasil menyatukan dua kota besar di Kerajaan Samudera Pasai, yakni kota Samudera dan kota Pasai

dan menjadikan masyarakatnya sebagai umat Islam. Setelah beliau mangkat pada tahun 1297, jabatan beliau diteruskan oleh putranya, Sultan Malik al Thahir. Lalu takhta kerajaan dilanjutkan lagi oleh kedua cucunya yang bernama Malik al Mahmud dan Malik al Mansur.

  1. Malik al Mahmud dan Malik al Mansur.

Dalam menjalankan pemerintahannya, Malik al Mahmud dan Malik al Mansur pernah memindahkan ibu kota kerajaan ke Lhok Seumawe dengan dibantu oleh kedua perdana menterinya.

  1. Sultan Ahmad Perumadal Perumal

Pada masa pemerintahan Sultan Ahmad Perumadal Perumal inilah, Kerajaan Samudera Pasai pertama kalinya menjalin hubungan dengan Kerajaan / Kesultanan lain, yakni Kesultanan Delhi (India).

 

  1. Aspek Kehidupan Ekonomi dan Sosial

Kehidupan ekonomi dan sosial masyarakat Samudera Pasai dititikberatkan pada kegiatan perdagangan, pelayaran dan penyebaran agama. Hal ini dikarenakan, banyaknya pedagang asing yang sering singgah bahkan menetap di daerah Samudera Pasai, yakni Pelabuhan Malaka. Mereka yang datang dari berbagai negara seperti Persia, Arab, dan Gujarat kemudian bergaul dengan penduduk setempat dan menyebarkan agama serta kebudayaannya masing-masing. Dengan demikian, kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat Samudera Pasai bertambah maju, begitupun di bidang perdagangan, pelayaran dan keagamannya.

Keberadaan agama Islam di Samdera Pasai sangat dipengaruhi oleh perkembangan di Timur Tengah. Hal itu terbukti pada saat perubahan aliran  Syi’ah menjadi Syafi’i di Samudera Pasai. Perubahan aliran tersebut ternyata mengikuti perubahan di Mesir. Pada saat itu, di Mesir sedang terjadi pergantian kekuasaan dari Dinasti Fatimah yang beraliran Syi’ah kepada Dinasti Mameluk yang beraliran Syafi’i.

Aliran Syafi’i dalam perkembangannya di samudera Pasai menyesuaikan dengan adat istiadat setempat. Oleh karena itu kehidupan sosial masyarakatnya merupakan campuran Islam dengan adat istiadat setempat.

 

  1. Kemunduran Kerajaan Samudera Pasai

Pada waktu Samudera Pasai berkembang, Majapahit juga sedang mengembangkan politik ekspansi. Majapahit setelah meyakini adanya hubungan antara Samudera Pasai dan Delhi yang membahayakan kedudukannya, maka

pada tahun 1350 M segera menyerang Samudera Pasai. Akibatnya, Samudera Pasai mengalami kemunduran. Pusat perdagangan Samudera Pasai pindah ke pulau Bintan dan Aceh Utara (Banda Aceh). Samudera Pasai runtuh ditaklukkan Aceh

KERAJAAN ACEH

 

  1. Awal Perkembangan Kerajaan Aceh

Aceh semula menjadi daerah taklukkan Kerajaan Pedir. Akibat Malaka jatuh ke tangan Portugis, pedagang yang semula berlabuh di pelabuhan Malaka beralih ke pelabuhan milik Aceh. Dengan demikian, Aceh segera berkembang dengan cepat dan akhirnya lepas dari kekuasaan Pedir. Aceh berdiri sebagai kerajaan merdeka. Sultan pertama yang memerintah dan sekaligus pendiri Kerajaan Aceh adalah Sultan Ali Mughayat Syah (1514-1528 M).

 

  1. Aspek Kehidupan Politik dan Pemerintahan

Aceh cepat tumbuh menjadi kerajaan besar karena didukung oleh faktor sebagai berikut:

1)     Letak Ibu kota Aceh yang sangat strategis.

2)     Pelabuhan Aceh ( Olele ) memiliki persyaratan yang baik sebagai pelabuhan dagang.

3)     Daerah Aceh kaya dengan tanaman lada sebagai mata dagangan ekspor yang penting.

4)     Jatuhnya Malaka ke tangan Portugis menyebabkan pedagang Islam banyak yang singgah ke Aceh.

Sultan Ali Mughayat Syah merupakan Raja pertama di Aceh sekaligus beliau merupakan pendiri Kerajaan Aceh. Setelah beliau mangkat, raja selanjutnya adalah Sultan Ibrahim. Dalam pemerintahannya beliau berhasil menaklukkan Pedir. Raja berikutnya adalah Iskandar Muda. Pada masa pemerintahan beliau, Aceh mencapai puncak kejayaan dan menjadi sumber komoditas lada dan emas. Beliau mangkat pada tahun 1636 M dan digantikan oleh menantunya Iskandar Thani yang tidak memiliki kecakapan. Dalam pemerintahannya, Kerajaan Aceh terus-menerus mengalami kemunduran.

 

  1. Aspek Kehidupan Kebudayaan

Letak Aceh yang strategis menyebabkan perdagangannya maju pesat. Dengan demikian, kebudayaan masyarakatnya juga makin bertambah maju karena sering berhubungan dengan bangsa lain. Contohnya, yaitu tersusunnya hukum adat yang dilandasi ajaran Islam yang disebut Hukum Adat Makuta Alam.

Dengan hukum adat Makuta Alam itulah, sehingga tata kehidupan dan segala aktivitas masyarakat Aceh didasarkan pada aturan Islam. Dengan demikian, keadaan Aceh seolah-olah identik dengan Mekah, Arab Saudi. Atas dasar itulah, Aceh mendapat julukan Serambi Mekah.

  1. Aspek Kehidupan Ekonomi dan Sosial

Bidang perdagangan yang maju menjadikan Aceh makin makmur. Setelah Sultan Ibrahim dapat menaklukkan Pedir yang kaya akan lada putih, Aceh makin bertambah makmur dan menjadi sumber komoditas lada dan emas. Dengan kekayaan melimpah, Aceh mampu membangun angkatan bersenjata yang kuat.

 

  1. Kemunduran Kerajaan Aceh

Kemunduran Kerajaan Aceh ketika itu disebabkan oleh hal-hal sebagai-berikut:

  1. Kekalahan perang antara Aceh melawan Portugis di Malaka pada tahun 1629 M.
  2. Tokoh pengganti Iskandar Muda tidak secakap pendahulunya.
  3. Permusuhan yang hebat di antara kaum ulama yang menganut ajaran berbeda.
  4. Daerah-daerah yang jauh dari pemerintahan pusat melepaskan diri dengan Aceh.
  5. Pertahanan Aceh lemah sehingga bangsa-bangsa Eropa lainnya berhasil mendesak dan menggeser daerah-daerah perdagangan Aceh. Akibatnya perekonomian semakin melemah.

KERAJAAN DEMAK

 

  1. Awal Perkembangan Kerajaan Demak

Kerajaan Demak merupakan kerajaan Islam pertama di Pulau Jawa. Demak sebelumnya merupakan daerah vasal atau bawahan dari Majapahit. Daerah ini diberikan kepada Raden Patah, keturunan Raja Majapahit yang terakhir.

Ketika kekuasaan kerajaan Majapahit melemah, Raden Patah memisahkan diri sebagai bawahan Majapahit pada tahun 1478 M. Dengan dukungan dari para bupati, Raden Patah mendirikan kerajaan Islam Demak dengan gelar Senopati Jimbung Ngabdurrahman Panembahan Palembang Sayidin Panatagama. Sejak saat itu, kerajaan Demak berkembang menjadi kerajaan maritim yang kuat. Wilayahnya cukup luas, hampir meliputi sepanjang pantai utara Pulau Jawa. Sementara itu, daerah pengaruhnya sampai ke luar Jawa, seperti ke Palembang, Jambi, Banjar, dan Maluku.

 

  1. Aspek Kehidupan Politik dan Pemerintahan

Pada tahun 1507 M, Raja Demak pertama, Raden Patah mangkat dan digantikan oleh putranya Pati Unus. Pada masa pemerintahan Pati Unus, Demak dan Portugis bermusuhan, sehingga sepanjang pemerintahannya, Pati Unus hanya memperkuat pertahanan lautnya, dengan maksud agar Portugis tidak masuk ke Jawa. Setelah mangkat pada tahun 1521, Pati unus digantikan oleh adiknya Trenggana. Setelah naik takhta, Sultan Trenggana melakukan usaha besar membendung masuknya portugis ke Jawa Barat dan memperluas kekuasaan Kerajaan Demak.

Beliau mengutus Faletehan beserta pasukannya untuk menduduki Jawa Barat. Dengan semangat juang yang tinggi, Faletehan berhasil menguasai Banten dan Sunda Kelapa lalu menyusul Cirebon. Dengan demikian, seluruh pantai utara Jawa akhirnya tunduk kepada pemerintahan Demak. Faletehan kemudian diangkat menjadi raja di Cirebon. Pasukan demak terus bergerak ke daerah pedalaman dan berhasil menundukkan Pajang dan Mataram, serta Madura. Untuk memperkuat kedudukannya, Sultan Trenggana melakukan perkawinan politik dengan Bupati Madura, yakni mengawinkan Putri Sultan Trenggana dengan Putra Bupati Madura, Jaka Tingkir. Sultan Trenggana mangkat pada tahun 1546 M.

 

Mangkatnya Beliau menimbulkan kekacauan politik yang hebat di Demak. Negara bagian banyak yang melepaskan diri, dan para ahli waris Demak juga saling berebut tahta sehingga timbul perang saudara dan muncullah kekuasaan baru, yakni Kerajaan Pajang.

 

  1. Aspek Kehidupan Sosial dan Budaya

Kehidupan sosial masyarakat Kerajaan Demak telah berjalan teratur. Pemerintahan diatur dengan hukum Islam tanpa meninggalkan norma-norma lama begitu saja. Hasil kebudayaan Demak merupakan kebudayaan yang berkaitan dengan Islam. Seperti ukir-ukiran Islam dan berdirinya Masjid Agung Demak yang masih berdiri sampai sekarang. Masjid Agung tersebut merupakan lambang kebesaran Demak sebagai kerajaan Islam.

  1. Aspek Kehidupan Ekonomi

Dalam bidang ekonomi, Demak berperan penting karena mempunyai daerah pertanian yang cukup luas dan sebagai penghasil bahan makanan, terutama beras. Selain itu, perdagangannya juga maju. Komoditas yang diekspor, antara lain beras, madu, dan lilin.

E.   Keruntuhan Kerajaan Demak

Keruntuhan Kerajaan Demak disebabkan karena pembalasan dendam yang dilakukan oleh Ratu Kalinyamat yang bekerja sama dengan Bupati Pajang Hadiwijaya (Jaka Tingkir). Mereka berdua ingin menyingkirkan Aria Penansang sebagai pemimpin Kerajaan Demak karena Aria Penansang telah membunuh suami dan adik suami dari Ratu Kalinyamat. Dengan tipu daya yang tepat mereka berhasil meruntuhkan pemerintahan dari Bupati Jipang yang tidak lain adalah Aria Penansang. Aria Penansang sendiri berhasil dibunuh Sutawijaya. Sejak saat itu pemerintahan Demak pindah ke Pajang dan tamatlah riwayat Kerajaan Demak.

 

 

 

 

KERAJAAN BANTEN

 

  1. Awal Perkembangan Kerajaan Banten

Semula Banten menjadi daerah kekuasaan Kerajaan Pajajaran. Rajanya (Samiam) mengadakan hubungan dengan Portugis di Malaka untuk membendung meluasnya kekuasaan Demak. Namun melalui, Faletehan, Demak berhasil menduduki Banten, Sunda Kelapa, dan Cirebon. Sejak saat itu, Banten segera tumbuh menjadi pelabuhan penting menyusul kurangnya pedagang yang berlabuh di Pelabuhan Malaka yang saat itu dikuasai oleh Portugis.

Pada tahun 1552 M, Faletehan menyerahkan pemerintahan Banten kepada putranya, Hasanuddin. Di bawah pemerintahan Sultan Hasanuddin (1552-1570 M), Banten cepat berkembang menjadi besar. Wilayahnya meluas sampai ke Lampung, Bengkulu, dan Palembang.

 

  1. Aspek Kehidupan Politik dan Pemerintahan

Raja Banten pertama, Sultan Hasanuddin mangkat pada tahun 1570 M dan digantikan oleh putranya, Maulana Yusuf. Sultan Maulana Yusuf memperluas daerah kekuasaannya ke pedalaman. Pada tahun 1579 M kekuasaan Kerajaan Pajajaran dapat ditaklukkan, ibu kotanya direbut, dan rajanya tewas dalam pertempuran. Sejak saat itu, tamatlah kerajaan Hindu di Jawa Barat.

Pada masa pemerintahan Maulana Yusuf, Banten mengalami puncak kejayaan. Keadaan Banten aman dan tenteram karena kehidupan masyarakatnya diperhatikan, seperti dengan dilaksanakannya pembangunan kota. Bidang pertanian juga diperhatikan dengan membuat saluran irigasi.

Sultan Maulana Yusuf mangkat pada tahun 1580 M. Setelah mangkat, terjadilah perang saudara untuk memperebutkan tahta di Banten. Setelah peristiwa itu, putra Sultan Maulana Yusuf, Maulana Muhammad yang baru berusia sembilan tahun diangkat menjadi Raja dengan perwalian Mangkubumi.

Masa pemerintahan Maulana Muhammad berlangsung tahun 1508-1605 M. Kemudian digantikan oleh Abdulmufakir yang masih kanak-kanak didampingi oleh Pangeran Ranamenggala. Setelah pangeran Rana Menggala wafat, Banten mengalami kemunduran.


  1. Aspek Kehidupan Ekonomi dan Sosial

Banten tumbuh menjadi pusat perdagangan dan pelayaran yang ramai karena menghasilkan lada dan pala yang banyak. Pedangang Cina, India, gujarat, Persia, dan Arab banyak yang datang berlabuh di Banten. Kehidupan sosial masyarakat Banten dipengaruhi oleh sistem kemasyarakatan Islam. Pengaruh tersebut tidak terbatas di lingkungan daerah perdagangan, tetapi meluas hingga ke pedalaman.

 

  1. Kemunduran Kerajaan Banten

Penyebab kemunduran Kerajaan Banten berawal saat mangkatnya Raja Besar Banten Maulana Yusuf. Setelah mangkatnya Raja Besar terjadilah perang saudara di Banten antara saudara Maulana Yusuf dengan pembesar Kerajaan Banten. Sejak saat itu Banten mulai hancur karena terjadi peang saudara, apalagi sudah tidak ada lagi raja yang cakap seperti Maulana Yusuf.

 

 

 

 

KERAJAAN MATARAM ISLAM

 

  1. Awal Perkembangan Kerajaan Mataram Islam

Pada waktu Sultan Hadiwijaya berkuasa di Pajang, Ki Ageng Pemanahan dilantik menjadi Bupati di Mataram sebagai imbalan atas keberhasilannya membantu menumpas Aria Penangsang. Sutawijaya, putra Ki Ageng Pemanahan diambil anak angkat oleh Sultan Hadiwijaya. Setelah Ki Ageng Pemanahan wafat pada tahun 1575 M, Sutawijaya diangkat menjadi bupati di Mataram. Setelah menjadi bupati, Sutawijaya ternyata tidak puas dan ingin menjadi raja yang menguasai seluruh Jawa, sehingga terjadilah peperangan sengit pada tahun 1528 M yang menyebabkan Sultan Hadiwijaya mangkat. Setelah itu terjadi perebutan kekuasaan di antara para Bangsawan Pajang dengan pasukan Pangeran Pangiri yang membuat Pangeran Pangiri beserta pengikutnya diusir dari Pajang, Mataram. Setelah suasana aman, Pangeran Benawa (putra Hadiwijaya) menyerahkan takhtanya kepada Sutawijaya yang kemudian memindahkan pusat pemerintahannya ke kotagede pada tahun 1568 M. Sejak saat itu berdirilah Kerajaan Mataram.

 

  1. Aspek Kehidupan Politik dan Pemerintahan

Dalam menjalankan pemerintahannya, Sutawijaya, Raja Mataram banyak menghadapi rintangan. Para bupati di pantai utara Jawa seperti Demak, Jepara, dan Kudus yang dulunya tunduk pada Pajang memberontak ingin lepas dan menjadi kerajaan merdeka. Akan tetapi, Sutawijaya berusaha menundukkan bupati-bupati yang menentangnya dan Kerajaan Mataram berhasil meletakkan landasan kekuasaannya mulai dari Galuh (Jabar) sampai pasuruan (Jatim).

Setelah Sutawijaya mangkat, tahta kerajaan diserahkan oleh putranya, Mas Jolang, lalu cucunya Mas Rangsang atau Sultan Agung. Pada masa pemerintahan Sultan Agung, muncul kembali para bupati yang memberontak, seperti Bupati Pati, Lasem, Tuban, Surabaya, Madura, Blora, Madiun, dan Bojonegoro.

Untuk menundukkan pemberontak itu, Sultan Agung mempersiapkan sejumlah besar pasukan, persenjataan, dan armada laut serta penggemblengan fisik dan mental. Usaha Sultan Agung akhirnya berhasil pada tahun 1625 M. Kerajaan Mataram berhasil menguasai seluruh Jawa, kecuali Banten, Batavia, Cirebon, dan Blambangan. Untuk menguasai seluruh Jawa, Sultan Agung mencoba merebut Batavia dari tangan Belanda. Namun usaha Sultan mengalami kegagalan.

  1. Aspek Kehidupan Sosial

Kehidupan masyarakat di kerajaan Mataram, tertata dengan baik berdasarkan hukum Islam tanpa meninggalkan norma-norma lama begitu saja. Dalam pemerintahan Kerajaan Mataram Islam, Raja merupakan pemegang kekuasaan tertinggi, kemudian diikuti oleh sejumlah pejabat kerajaan. Di bidang keagamaan terdapat penghulu, khotib, naid, dan surantana yang bertugas memimpin upacara-upacara keagamaan. Di bidang pengadilan, dalam istana terdapat jabatan jaksa yang bertugas menjalankan pengadilan istana.

Untuk menciptakan ketertiban di seluruh kerajaan, diciptakan peraturan yang dinamakan anger-anger yang harus dipatuhi oleh seluruh penduduk.

  1. Aspek Kehidupan Ekonomi dan Kebudayaan

Kerajaan Mataram adalah kelanjutan dari Kerajaan Demak dan Pajang. Kerajaan ini menggantungkan kehidupan ekonominya dari sektor agraris. Hal ini karena letaknya yang berada di pedalaman. Akan tetapi, Mataram juga memiliki daerah kekuasan di daerah pesisir utara Jawa yang mayoritas sebagai pelaut. Daerah pesisir inilah yang berperan penting bagi arus perdagangan Kerajaan Mataram.

Kebudayaan yang berkembang pesat pada masa Kerajaan Mataram berupa seni tari, pahat, suara, dan sastra. Bentuk kebudayaan yang berkembang adalah Upacara Kejawen yang merupakan akulturasi antara kebudayaan Hindu-Budha dengan Islam.

Di samping itu, perkembangan di bidang kesusastraan memunculkan karya sastra yang cukup terkenal, yaitu Kitab Sastra Gending yang merupakan perpaduan dari hukum Islam dengan adat istiadat Jawa yang disebut Hukum Surya Alam.

 

  1. Kemunduran Mataram Islam

Kemunduran Mataram Islam berawal saat kekalahan Sultan Agung merebut Batavia dan menguasai seluruh Jawa dari Belanda. Setelah kekalahan itu, kehidupan ekonomi rakyat tidak terurus karena sebagian rakyat dikerahkan untuk berperang.

KERAJAAN MAKASSAR

 

  1. Awal Perkembangan Kerajaan Makassar

Di Sulawesi Selatan pada awal abad ke-16 terdapat banyak kerajaan, tetapi yang terkenal adalah Gowa, Tallo, bone, Wajo, Soppeng, dan Luwu. Berkat dakwah dari Datuk ri Bandang dan Sulaeman dari Minangkabau, akhirnya Raja Gowa dan Tallo masuk Islam (1605) dan rakyat pun segera mengikutinya.

Kerajaan Gowa dan Tallo akhirnya dapat menguasai kerajaan lainnya. Dua kerajaan itu lazim disebut Kerajaan Makassar. Dari Makasar, agama Islam menyebar ke berbagai daerah sampai ke Kalimantan Timur, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur. Makassar merupakan salah satu kerajaan Islam yang ramai akan pelabuhannya. Hal ini, karena letaknya di tengah-tengah antara Maluku, Jawa, Kalimantan, Sumatera, dan Malaka.

 

  1. Aspek Kehidupan Politik dan Pemerintahan

Kerajaan Makassar mula-mula diperintah oleh Sultan Alauddin (1591-1639 M). Raja berikutnya adalah Muhammad Said (1639-1653 M) dan dilanjutan oleh putranya, Hasanuddin (1654-1660 M). Sultan Hasanuddin berhasil memperluas daerah kekuasaannya dengan menundukkan kerajaan-kerajaan kecil di Sulawesi Selatan, termasuk Kerajaan Bone.

VOC setelah mengetahui Pelabuhan Makassar, yaitu Sombaopu cukup ramai dan banyak menghasilkan beras, mulai mengirimkan utusan untuk membuka hubungan dagang. Setelah sering datang ke Makassar, VOC mulai membujuk Sultan Hasanuddin untuk bersama-sama menyerbu Banda (pusat rempah-rempah). Namun, bujukan VOC itu ditolak.

Setelah peristiwa itu, antara Makassar dan VOC mulai terjadi konflik. Terlebih lagi setelah insiden penipuan tahun 1616. Pada saat itu para pembesar Makassar diundang untuk suatu perjamuan di atas kapal VOC, tetapi nyatanya malahan dilucuti dan terjadilah perkelahian yang menimbulkan banyak korban di pihak Makassar. Keadaan meruncing sehingga pecah perang terbuka. Dalam peperangan tersebut, VOC sering mengalami kesulitan dalam menundukkan Makassar. Oleh karena itu, VOC memperalat Aru Palakka (Raja Bone) yang ingin lepas dari kerajaan Makassar dan menjadi kerajaan merdeka.

  1. Aspek Kehidupan Ekonomi, Sosial, dan Kebudayaan

Kerajaan Makassar berkembang menjadi kerajaan maritim. Hasil perekonomian terutama diperoleh dari hasil pelayaran dan perdagangan. Pelabuhan Sombaupu ( Makassar ) banyak didatangi kapal-kapal dagang sehingga menjadi pelabuhan transit yang sangat ramai. Dengan demikian, masyarakatnya hidup aman dan makmur.

Dalam menjalankan pemerintahannya, Raja dibantu oleh Bate Salapanga (Majelis Sembilan) yang diawasi oleh seorang paccalaya (hakim). Sesudah sultan, jabatan tertinggi dibawahnya adalah pabbicarabutta (mangkubumi) yang dibantu oleh tumailang matoa dan malolo. Panglima tertinggi disebut anrong guru lompona tumakjannangan. Bendahara kerajaan disebut opu bali raten yang juga bertugas mengurus perdagangan dan hubungan luar negeri. Pejabat bidang keagamaan dijabat oleh kadhi yang dibantu imam, khatib, dan bilal.

Hasil kebudayaan yang cukup menonjol dari Kerajaan Makassar adalah keahlian masyarakatnya membuat perahu layar yang disebut pinisi dan lambo.

 

D.  Kemunduran Kerajaan Makassar

Kemunduran Kerajaan Makassar disebabkan karena permusuhannya dengan VOC yang berlangsung sangat lama. Ditambah dengan taktik VOC yang memperalat Aru Palakka ( Raja Bone) untuk mengalahkan Makassar. Kebetulan saat itu Kerajaan Makassar sedang bermusuhan dengan Kerajaan Bone sehingga Raja Bone setuju bekerja sama dengan VOC.

 

KERAJAAN TERNATE

  1. Awal Perkembangan Kerajaan Ternate

Pada abad ke-13 di Maluku sudah berdiri Kerajaan Ternate. Ibu kota Kerajaan Ternate terletak di Sampalu (Pulau Ternate). Selain Kerajaan Ternate, di Maluku juga telah berdiri kerajaan lain, seperti Jaelolo, Tidore, Bacan, dan Obi. Di antara kerajaan di Maluku, Kerajaan Ternate yang paling maju. Kerajaan Ternate banyak dikunjungi oleh pedagang, baik dari Nusantara maupun pedagang asing.

 

  1. Aspek Kehidupan Politik dan Pemerintahan

Raja Ternate yang pertama adalah Sultan Marhum (1465-1495 M). Raja berikutnya adalah putranya, Zainal Abidin. Pada masa pemerintahannya, Zainal Abidin giat menyebarkan agama Islam ke pulau-pulau di sekitarnya, bahkan sampai ke Filiphina Selatan. Zainal Abidin memerintah hingga tahun 1500 M. Setelah mangkat, pemerintahan di Ternate berturut-turut dipegang oleh Sultan Sirullah, Sultan Hairun, dan Sultan Baabullah. Pada masa pemerintahan Sultan Baabullah, Kerajaan Ternate mengalami puncak kejayaannya. Wilayah kerajaan Ternate meliputi Mindanao, seluruh kepulauan di Maluku, Papua, dan Timor. Bersamaan dengan itu, agama Islam juga tersebar sangat luas.

  1. Aspek Kehidupan Ekonomi, Sosial, dan Kebudayaan

Perdagangan dan pelayaran mengalami perkembangan yang pesat sehingga pada abad ke-15 telah menjadi kerajaan penting di Maluku. Para pedagang asing datang ke Ternate menjual barang perhiasan, pakaian, dan beras untuk ditukarkan dengan rempah-rempah. Ramainya perdagangan memberikan keuntungan besar bagi perkembangan Kerajaan Ternate sehingga dapat membangun laut yang cukup kuat.

Sebagai kerajaan yang bercorak Islam, masyarakat Ternate dalam kehidupan sehari-harinya banyak menggunakan hukum Islam . Hal itu dapat dilihat pada saat Sultan Hairun dari Ternate dengan De Mesquita dari Portugis melakukan perdamaian dengan mengangkat sumpah dibawah kitab suci Al-Qur’an. Hasil kebudayaan yang cukup menonjol dari kerajaan Ternate adalah keahlian masyarakatnya membuat kapal, seperti kapal kora-kora.

  1. Kemunduran Kerajaan Ternate

Kemunduran Kerajaan Ternate disebabkan karena diadu domba dengan Kerajaan Tidore yang dilakukan oleh bangsa asing ( Portugis dan Spanyol ) yang bertujuan untuk memonopoli daerah penghasil rempah-rempah tersebut. Setelah Sultan Ternate dan Sultan Tidore sadar bahwa mereka telah diadu domba oleh Portugis dan Spanyol, mereka kemudian bersatu dan berhasil mengusir Portugis dan Spanyol ke luar Kepulauan Maluku. Namun kemenangan tersebut tidak bertahan lama sebab VOC yang dibentuk Belanda untuk menguasai perdagangan rempah-rempah di Maluku berhasil menaklukkan Ternate dengan strategi dan tata kerja yang teratur, rapi dan terkontrol dalam bentuk organisasi yang kuat.

KERAJAAN TIDORE

 

  1. Awal Perkembangan Kerajaan Tidore

Kerajaan tidore terletak di sebelah selatan Ternate. Menurut silsilah raja-raja Ternate dan Tidore, Raja Ternate pertama adalah Muhammad Naqal yang naik tahta pada tahun 1081 M. Baru pada tahun 1471 M, agama Islam masuk di kerajaan Tidore yang dibawa oleh Ciriliyah, Raja Tidore yang kesembilan. Ciriliyah atau Sultan Jamaluddin bersedia masuk Islam berkat dakwah Syekh Mansur dari Arab.

 

  1. Aspek Kehidupan Politik dan Kebudayaan

Raja Tidore mencapai puncak kejayaan pada masa pemerintahan Sultan Nuku (1780-1805 M). Sultan Nuku dapat menyatukan Ternate dan Tidore untuk bersama-sama melawan Belanda yang dibantu Inggris. Belanda kalah serta terusir dari Tidore dan Ternate. Sementara itu, Inggris tidak mendapat apa-apa kecuali hubungan dagang biasa. Sultan Nuku memang cerdik, berani, ulet, dan waspada. Sejak saat itu, Tidore dan Ternate tidak diganggu, baik oleh Portugis, Spanyol, Belanda maupun Inggris sehingga kemakmuran rakyatnya terus meningkat. Wilayah kekuasaan Tidore cukup luas, meliputi Pulau Seram, Makean Halmahera, Pulau Raja Ampat, Kai, dan Papua. Pengganti Sultan Nuku adalah adiknya, Zainal Abidin. Ia juga giat menentang Belanda yang berniat menjajah kembali.

  1. Aspek Kehidupan Ekonomi dan Sosial

Sebagai kerajaan yang bercorak Islam, masyarakat Tidore dalam kehidupan sehari-harinya banyak menggunakan hukum Islam . Hal itu dapat dilihat pada saat Sultan Nuku dari Tidore dengan De Mesquita dari Portugis melakukan perdamaian dengan mengangkat sumpah dibawah kitab suci Al-Qur’an.

Kerajaan Tidore terkenal dengan rempah-rempahnya, seperti di daerah Maluku. Sebagai penghasil rempah-rempah, kerajaan Tidore banyak didatangi oleh Bangsa-bangsa Eropa. Bangsa Eropa yang datang ke Maluku, antara lain Portugis, Spanyol, dan Belanda.

 

  1. Kemunduran Kerajaan Tidore

Kemunduran Kerajaan Tidore disebabkan karena diadu domba dengan Kerajaan Ternate yang dilakukan oleh bangsa asing ( Spanyol dan Portugis ) yang bertujuan untuk memonopoli daerah penghasil rempah-rempah tersebut. Setelah Sultan Tidore dan Sultan Ternate sadar bahwa mereka telah diadu domba oleh Portugis dan Spanyol, mereka kemudian bersatu dan berhasil mengusir Portugis dan Spanyol ke luar Kepulauan Maluku. Namun kemenangan tersebut tidak bertahan lama sebab VOC yang dibentuk Belanda untuk menguasai perdagangan rempah-rempah di Maluku berhasil menaklukkan Ternate dengan strategi dan tata kerja yang teratur, rapi dan terkontrol dalam bentuk organisasi yang kuat.

 

 

 

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.