LAUT SERIBU SENJA

Tema : Asal mula nama Kerinci

Sinopsis : Cerita ini mengisahkan tentang perebutan kekuasaaan, yang satu ingin malihat negerinya itu aman dari segala musibah. Dan yang satunya lagi hanya menuruti apa yang ada dipikirannya dan bersenang-senang.

Pemeran : – Siak Lengis => Roki Mirza
– Dayang 1 => Novita Maryalis
– Dayang 2 => Deny Andischa
– Jubantin => Yoki Saputra
– Si Pahit Lidah => Mega Desteria Putri
– Si Mata Empat => Nandia Fitri
– Penduduk => Yogi Darma Yanda

Dahulu kala ada sebuah negeri yang amat indah, makmur, dan damai. Tetapi ketentraman di negeri itu di hancurkan oleh seorang durjana jahat. Dia membuat negeri itu menjadi laut, dengan mendatangkan banjir besar.
Di dalam sebuah istana tersebutlah seorang raja yang sedang berdiskusi dengan dayangnya. Dia amat sedih memikirkan nasib negerinya. Raja itu bernama Siak Lengis.

Siak Lengis : Sudah lama negeri ini dilanda bencana. Sawah tak dapat ditanami yang adapun tak dapat dimiliki. Dayang !! Padamu bicaraku ku tuju.

Dayang 1 : Hamba tuanku…………….

Siak Lengis : Apa yang engkau ketahui tentang banjir ini ?

Dayang 1 : Pastilah ada empang yang mengempang disana.

Siak Lengis : Adakah penunggunya disana ?

Dayang 1 : Ada. Orang sakti yang tiada tandingannya. Bersama kedua istrinya yang sakti.

Siak Lengis : Apa pula kesaktian istrinya ?

Dayang 2 : Istrinya bernama Si Mata Empat yang bisa mengetahui apa yang terjadi dimasa depan. Yang satunya lagi Si Pahit Lidah, apapun yang ia katakana pasti akan terjadi.

Siak Lengis : Apakah dengan kesaktiannya mereka menyiksa ?

Dayang 1 : Bukan menyiksa, tapi mencoba !

Siak Lengis : Siapa yang mereka coba ?

Dayang 2 : Mungkin tuan dan juga kita semua. Untuk lebih jelasnya, tuan bisa menyaksikannya sendiri.

Siak Lengis : Baiklah, siapkan perahu ! Kita akan berlayar ke sebrang sana.

Dayang 1 & 2 : Perintah tuanku kami junjung tinggi.

Kemudian Siak Lengis bersama dayangnya berlayar kesebrang untuk memohon kebaikan hati Jubantin Sang Durjana tersebut agar mau mengembalikan negerinya seperti semula.

Dayang 1 : Merapatlah ketepi. Tuanku boleh naik kedarat.

Siak Lengis : Hai…..Penghuni Bukit Sembilan Tangguk Penyekat Laut Seribu Senja Alam Terkunci. Dengan Andakah kami berhadapan ?

Jubantin : Benar kiranya. Siapa pula yang datang bersama dayang bagai menantang ?

Siak Lengis : Bukan menantang, tapi perasaan iba dating melanda. Sawah tak dapat ditanami yang adapun tak dapat dimiliki. Kiranya di muara air tersumbat. Izinkan kami untuk membuka sumbatnya.

Jubantin : Itu adalah taman bagiku. Ikan-ikanku berkeliaran ditaman buatan tanganku. Haruska itu terbuang karena pintamu !!! Tak dapat ku kabulkan.

Siak Lengis : Tuan, tuan hanya memikirkan taman yang dengan itu tuan merasa senang. Tapi bagi kami itu adalah siksa. Sawah tak dapat ditamani yang adapun tak dapat dimiliki.

Jubantin : Sekali lagi ku katakan kepadamu. Itu adlaah taman bagiku. Ikan-ikanku berkeliaran ditaman buatan tanganku. Pulanglah ibumu menunggu. Sebelum amarahku sampai pada puncaknya.

Si Pahit Lidah : Kini sembilan kepal tanah telah tertumpah,haruskah terbuang sia-sia. Sumpahku belum berlaku bagimu. Jadi, cepat tinggalkan tempat ini.

Siak Lengis : Aku akan tinggalkan tempat ini. Tapi aku akan dating lagi.

Si Mata Empat : Datangmu akan membawa petaka.

Dayang 1 : Petaka itu milik siapa…..???

Siak Lengis : Milik Sang Durjana.

Jubantin : Aku bukan Sang Durjana.

Siak Lengis : Belum bertelur sudah berkotek.

Jubantin : Ayam jantanku tak pernah bertelur, tapi berkokok. Keperkasaanmu ada dimana……???

Siak Lengis : Dayang….. Ubahlah arah perahu, sebab menangpun tiada gunanya.

Setelah berdebat dengan Jubantin dan kedua istrinya, mereka kembali kekerajaan. Sesampainya mereka diistana, Siak Lengis memerintahkan dayangnya untuk mengambil keris pusaka pada Ibundanya agar ia bisa mengalahkan Jubantin.
Setelah mengambil keris tersebut, dayang kemudian menyerahkan keris pusaka pada Sial Lengis dan menyampaikan pesan Ibunda Ratu. Setelah itu berlayarlah mereka ke negeri seberang.

Dayang 2 : Keris pusaka amat berbahaya. Tak ada besi yang tak putus, tak ada manusia yang tak mampus. Jangan dimainkan di gelangan ramai. Itulah pesan Ibunda Ratu, tuanku.

Siak Lengis : Pesan Ibunda Ratu selalu terngiang di telinga. Dayang ! Siapkan perahu, kita akan berlayar ke negeri sebrang.

Dayang 1& 2 : Perintah tuanku kami junjung tinggi.

Sesampainya mereka disana………………..

Siak Lengis : Hai….Penghuni Bukit Sembilan Tangguk Penyekat Laut Seribu Senja Alam Terkunci. Jubantin, Si Pahit Lidah, Si Mata Empat ! Dengan Andakah kami berhadapan….

Jubantin : Benar kiranya…. Tuan yang datang dari Tanjung Kecil Pulau Menanti yang bertitian teras bertangga batu, Siak Lengis Datuk Perpati Ngan Sebatang. Telah berpikirkah engkau terlebih dahulu !

Siak Lengis : Kedatangan kami hanya ingin membersihkan negeri.

Jubantin : Dua kali kau datang hanya untuk satu tujuan. Jawabku satu untuk dua kedatanganmu. Itu adalah taman bagiku. Ikan-ikanku berkeliaran ditaman buatan tangaku. Haruska itu terbuang karena pintamu !!! Tak dapat ku kabulkan.

Si Empat Mata telah mengetahui bahwa mereka akan kalah………..

Si Pahit Lidah : Ku harap kedua dayangmu turun dari perahu !

Siak Lengis : Tak ada yang harus turun……..

Si Pahit Lidah : Turun…..!!!

Siak Lengis : Tidak !!

Si Pahit Lidah : Turun…..!!!

Siak Lengis : Tidak !!

Si Pahit Lidah : Karam……..!!!!

Dayang 1 & 2 : Aaaaaaaaaaaaa………ggggggggkkkkkkkkghhhhhhhhhh……..

Siak Lengis : Cukup….! Permainanmu tak aneh bagiku. Ayo hadapi aku.

Si Mata Empat : Kini petaka telah tiba, jiwa siapa yang akan melayang-layang menembus awan menerjang kelam…….kelam…….kelam…….

Si Pahit Lidah : Kini petaka telah tiba hanya untuk Laut Seribu Senja. Petaka…..Petaka…..Petaka…..

Jubantin : Cukup…! Jangan bermain-main lagi. Hadapi aku, jika kalah kembalilah !!!

Kemudian Jubantin dan Siak Lengis pun bertarung dan pertarungan itu sangat sengit. Mereka berdua saling mengadu kekuatan mereka……
Akhirnya pertarungan itu dimenangkan oleh Siak Lengis.

Siak Lengis : ALLAHUAKBAR

Setelah Siak Lengis memenangkan pertarungan itu, airpun mulai surut dan penduduk berdatangan.

Penduduk : Hai….Lihatlah…!! Air telah mengalir…….
Ada yang basah dan ada yang kering. Yang basah kita tanami dengan padi dan yang kering kita tanami dengan pohon.
Oi… uhang dusun !!
Bagaimana kalau negeri ini kita beri nama KERINCI

Semua : Yo…yo…yo….
Itu nama yang indah sekali.

Akhirnya negeri itupun hidup dengan tentram, damai dan sejahtera. Serta kota itupun diberi nama KOTA SAKTI ALAM KERINCI.